Laman

Kamis, 30 Juli 2009

Fosilisasi di Perguruan Tinggi

Catatan Dari Forum Fakultas Bahasa Sastra Seni dan Budaya X Seindonesia
MENGHINDARI FOSILISASI POTENSI SDM PERGURUAN TINGGI
Oleh Kamajaya Al Katuuk
Istilah fosilisasi, penulis ambil dari ungkapan Prof. Dr. Mansur Akil, dekan fakultas bahasa dan Budaya Universitas Makassar. Kata fosilisasi bukan istilah baru. Hanya, jelas menerenyuhkan tatkala diungkapkan di dalam forum nasional sekelas Forum Fakultas Pendidikan Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya yng dihelat dari tanggal 22 sampai 25 Juli 2009 oleh Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Unima. Bila perguruan tinggi adalah lembaga yang memiliki mandat inovasi keilmuan, maka ungkapan adanya proses fosilisasi adalah ungkapan yang mewakili pertanda adanya kegamangan di tubuh lembaga perguruan tinggi. Terutama di dalam menghadapi tantangan aktual. Sebutlah pencanangan 2012 sebagai tahun berbagai universitas harus mencapai levelitas World Class University, serta memenuhi standar ISO. Pada waktu yang sama juga model Badan Layanan Umum (BLU) atau Badan Hukum Pendidikan (BHP) telah ditetapkan sebagai acuan manajerial. Sebuah acuan yang tetap mudah disalahtafsirkan, karena lembaga pendidikan dituntut untuk professional sambil tetap nirlaba.
Konteks istilah fosilisasi yang dikemukakan di atas, di dalam forum di Manado tersebut, dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana mandegnya pengembangan diri dan fungsionlisasi potensi para pengajar senior, terutama para professor di perguruan tinggi. Indikasi yang diketengahkan adalah kecenderungan para guru besar untuk menyerahkan tugas utama kepada yuniornya. Di dalam pmbingan skripsi, misal, posisinya sebagai pembimbing I, hanya tinggal menerima hasil bimbingan dari pembimbing II. Di dalam pemaparan Prof. Dr. Suparno, rektor Universitas Malang, pada awal persidangan telah menyindir para profesor sekarang yang menerima tunjangan besar, tetapi malah banyak berdalih “sibuk” saat harus mengajar. Padahal tugas pokoknya adalah mengajar. Terang benderang sudah, bahwa fosilisasi adalah kata awas yang pantas dijadikan alat evaluasi diri pada sektor SDM perguruan tinggi. Sebab, bila tidak maka lembaga pendidikan tinggi akan kehilangan fungsi dasarnya sebagai lembaga pencerahan. Sederhananya, adalah ironis kalau lembaga pencerah malah barongo, melempem. Bahkan barongonya lembaga pendidikan tinggi dapat dilihat dari maraknya ijazah palsu, atau ijazah tanpa proses kuliah benar. Sekarang ini banyak orang bergelar tinggi, dengan kontribusi keilmuan yang rendah. Berkait dengan hal tersebut adalah seperti sudah sebegitu lama disindir bahwa perguruan tinggi kita tersedikit karya penelitian ilmiah di Asean. Padahal berpenduduk terbesar ke-4 sedunia.
Jadi peran proporsional para dosen dalam arti yang sejati, seperti yang dimandatkan undang-undang sisdiknas, yakni pelaksanaan tridarma: pendidikan, penelitian dan pngabdian kepada masyarakat yang belum memadai jelas menyungsrukan dirinya di dalam masalah bangsa. Pendidikan, terutama pendidikan tinggi masih saja menjadi bagian dari masalah bangsa, karena belum menjadi solusi bangsa. Sehingga patut digugatkan bahwa target-target yang direncanakan berbagai perguruan tinggi, selayaknya tidak sekadar wacana, melainkan sebuah proses yang jelas arahnya.
Di dalam pertemuan forum para pendidik di fakultas yang menghasilkan para akhli humaniora yang berlangsung di Manado tersebut, telah jadi ajang evaluasi diri sekaligus pengagendaan rencana aksi yang patut diapresiasi, seraya menunggu hasil nyata kiprahnya. Terutama karena para ilmu dilingkup forum tersebut juga tegas mengklaim bahwa pendidikan adalah tanggung jawab mereka. Untuk menjadi pengajar setiap orang harus menempuh pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Untuk menjadi guru haruslah melalui LPTK. Masalahnya, terkait dengn foslisasi; mandegnya proses keilmuan di dalam banyak lembaga pendidikan sekarang ini adalah langkah pertama kea rah perubahan yang benar. Tanpa itu, teruslah akan terjadi kenyinyiran intelektual bangsa ini. Beriazah tetapi tidak berilmu, tetapi kalau berilmu, malah berhenti belajar. Kondisi buruk itulah yang hendak disingkirkan oleh para ilmuan di selinkup fakultas ilmu pendidikan bahasa sastra seni dan budaya, yang setelah di Manado, yang dilaksanakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Unima, forum serupa dua tahun mendatang akan dilaksanakan di Universitas Ilmu Pendidikan Bandung. FBS Unima yang kali ini didekani oleh Dr (Cd). Ferdy Dj. Rorong, M.Hum, yang selama persidangan ditongkrongi terus oleh Prof. Dr. Ph. E.A. Tuerah, MSi, DEA selaku rektor, galib kalau menerima banyak energi dan inspirasi yang dari pelaksanaan forum yang mengesankan para peserta tersebut, untuk memajukan lembaga dan semakin teguh memberi sumbangsih terhadap daerah. Sederhana, sebenarnya, yaitu berketeladanan di dalam inovasi dan academic standing, serta sehatnya pengelolaan manajemen. Itulah fungsi hulu, yang pada gilirannya berpengaruh pada sektor hilir, yakni puasnya para mahasiswa sebagai pelanggan, dan terlayaninya dunia kerja. Sementara itu kepuasan staf dan pegawai juga terselenggara. Maka fosilisasi, dalam arti yang praktis wajib tidak ada di kampus. Kalau juga ada? Itu adalah musuh bersama baik warga kampus maupun masyarakat. Kampus sebagai pencerah bukan pambarongo***
READ MORE - Fosilisasi di Perguruan Tinggi

Senin, 13 Juli 2009

Akhiri Transisi

Catatan:
Jelang Terpilihnya Walikota Manado ke-20
Saatnya Muncul Figur Generasi Baru Sebenarnya

Kamajaya Al Katuuk

Ulang tahun Kota Manado yang ke 386 kali ini dirayakan secara khusus. Khusus karena, secara sosiopolitik, saat perayaan walikota terpilih sedang berada di dalam proses tengah diadili dalam tuduhan tindak pidana korupsi. Sehingga secara operasional kepemimpinan di daerah dijalankan di bawah taktis oleh pelaksana tugas Abdi Buchari, yang sejatinya adalah wakil walikota.
Kepemimpinan daerah kota Manado dipimpin oleh Abdi Buchari sudah dimulai sejak bulan april lalu. Jadi kalau merujuk kepada pemilihan walikota yang lampau maka, masa bakti kewalikotaan kali ini masih tersedia waktu sepanjang setahun; Pilkada walikota jatuh pada bulan juli, selang sebulan setelah Pilkada gubernur yang dilaksanakan bulan juni. Bila Abdi Buchari terhitung sebagai walikota Manado yang ke-19, maka pada bulan juli tahun depan warga Manado akan memilih jabatan walikota yang ke-20.
Posisi walikota yang ke-20 tersebut akan penting bukan hanya bagi sebuah proses politik, melainkan juga demi sebuah dinamika generasi yang berorientasi pada sistem penyelenggaraan daerah yang seharusnya segera terwujud. Kata kedua tersebut, nampaknya akan menjadi agenda yang lebih penting untuk diperhitungkan dibanding sekadar proses politik, sebab di dalamnya terdapat sebuah proses kunci. Dinamika generasi, kali ini terjadi karena secara alami generasi Indonesia lama, sebutan saya untuk menyebut Orde Lama dan Orde Baru akan mengalami alih generasi. Dari sisi kepenting politik reformasi dan reformasi politik, membutuhkan bukan sekadar berganti aktor, melainkan berganti visi.
Ekpektasi ke arah tersebut beralasan. Munculnya partai-partai baru yang menandingi partai Indonesia lama, seperti Golkar dan PDIP, terutama Partai Demokrat, PKS dan PAN dan bahkan PDS, jelas megindikasikan bahwa manajemen organisasi politik juga sudah berubah. Substansi berubah di atas, dapat dijadikan titiktolak model fatsun politik.
Kecenderungan tersebut jelas akan menjadi bagian dari irama politik ke depan. Dan di Kota Manado, tahun 2010 saat terjadinya Pilgub dan Pilwako serta Pilbup, adalah saat yang strategis untuk mengucapkan selamat tinggal Indonesia Lama, serta selamat datang Indonesia Baru. Formula ucapan ini tentunya akan jatuh menjadi sekadar wacana apabila metode dan taktis berpolitik yang sekarang dimainkan masih menganut faham lama. Arti konkretnya adalah harus disadari oleh semua pemain dan konstituen politik di daerah ini bahwa para penerus partai Indonesia Lama, bisa saja mewarisi organisasi politiknya, tetapi visi dan praktik berpolitik harus berubah. Hal yang setali tiga uang berlaku untuk partai-partai baru, tentunya. Belajar terhadap masa lalu justru bukan berarti untuk diterapkan pada konteks kekinian yang sudah tidk lagi layakterap. Di sinilah pentingnya kemampuan manajemen antisipasi bagi setiap pelaku politik untuk memahami tuntutan sosiologi politik mutakhir.
Berdasarkan peta sosiologi politik seperti demikian, maka menarik untuk diperhatikan bagaimana dinamika proses Personal Branding politik dari berberapa orang yang diduga menyasar kedudukan politik sebagai pimpinan politik di daerah ini. Untuk para bakal calon, di luar jalur independen, “kendaraan” politik jelas akan punya andil yang penting. Bahkan di dalam kasus atau analog terhadap Partai Demokrat dan SBY, sifatnya mutualis. Saling menguntungkan. Partai dan personal punya relasi saling berpegaruh secara signifikan.
Untuk itulah maka peringatan Hari Jadi Manado yang ke 386 kali ini juga seyogyanya dilihat sebagai sebuah tanda “star” bagi perubahan manajemen politik yang jelas. Perhatikan, misalkan data tingkat partisipasi pendukung yang kali ini cukup banyak dan besar dari kalangan entrepreneur. Baik jasa maupun niaga barang. Perhatikan halaman iklan dan “berita iklan” Manado Post jelang dan saat peringatan. Terang benderang kota ini tengah mengarah ke mana. Sampai di sini tulisan singkat ini tegas hendak memastikan bahwa pimpinan daerah ke depan tidak mungkin terpilih tanpa dukungan dua pilar utama konstituen, yakni masyarakat dan pengusaha. Sampai di sini, jelas partai yang antisipatif terhadap kebutuhan “pasar” politik menjadi jaminan untuk mengantarkan para kandidatnya untuk memenangkan sebuah proses politik. Dengan demikian, maka dapat dihipotesiskan bahwa pemimpin yang dipilih adalah seorang politisi murni tidak lagi akan jadi prasyarat. Bakal calon pemimpin daerah yang hendak dikompetisikan tidaklah lagi harus pengurus partai. Mekanisme, yang selama ini jadi acuan partai, yakni menomorsatukan pengurus atau terutama pemimpin partai untuk menjadi bakal calon atau calon di dalam sebuah pemilihan, patut diubah. Sudah saatnya partai terbuka dalam arti yang sejati. Bukan, terbuka untuk memolitikan partai sebagai ajang mencari dana bagi orang partai, melainkan terbuka untuk menegaskan eksistensi partai yang profesional adalah terbuka bagi segenap kandidat yang memiliki platform dan berkomitmen sama. Partai dan para pengurus, karenanya bukan lagi sebagai kata benda, melainkan kata kerja. Berproses menyiapkan administrsi politik yang prokebutuhan actual, zaman baru. Kini saatnya partai profesional menjadi fasilitator memunculkan figur politik yang sebenarnya, yakni negarawan. Analog ke Amerika Serikat, partai bukanlah tujuan melainkan sarana mewadahi para tokoh bangsa terbaik berkiprah.***
READ MORE - Akhiri Transisi

Senin, 15 Juni 2009

Dukung Hari Tanpa TV

HARI TANPA TV adalah hari di mana keluarga-keluarga di Indonesia tidak mengkonsumsi siaran televisi selama sehari penuh agar mereka dapat merasakan bahwa hidup bisa lebih bernilai ketika lebih banyak kegiatan lain dapat dilakukan secara bersama ketimbang menonton televisi. Pengalaman seperti ini sangat penting dimiliki oleh semua anggota keluarga untuk meyakinkan bahwa mereka tetap dapat menjalani kehidupan dengan menyenangkan meski tanpa TV.

Secara umum adapat dikatakan bahwa ketergantungan anak pada tayangan TV sudah sangat tinggi dan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ada beberapa fakta yang dapat menggambarkan betapa mengkhawatirkannya ketergantungan itu:

1. Pertama,
belum terbentuk pola kebiasaan menonton TV yang sehat. TV masih menjadi hiburan utama keluarga yang dikonsumsi setiap hari dalam waktu yang panjang tanpa seleksi yang ketat.

2. Kedua,
kebanyakan isi acara TV kita tidak aman dan tidak sehat untuk anak. Banyak acara TV dengan kandungan materi untuk orang dewasa yang ditayangkan pada jam-jam anak biasa menonton dan kemudian disukai dan ditiru oleh anak-anak. Contoh yang ekstrim, peniruan adegan laga dalam tayangan TV oleh anak telah menimbulkan beberapa korban jiwa.

3.Ketiga,
lemahnya peraturan bidang penyiaran dan penegakannya. Sejak indutri televisi berkembang pesat, permasalahan yang terkait dengan isi tayangan makin membesar dan hingga kini belum terlihat upaya penanganan secara serius.

========================================

Ayo GABUNG KE GRUP "HARI TANPA TV ----> Minggu, 26 Juli 2009 <---- click this", dan Undang yang anda sayangi ke Group ini, Kepedulian Kita bersama atas isi acara televisi yang berpengaruh terhadap perkembangan anak

Link Grup HARI TANPA TV ----> Minggu, 26 Juli 2009 <---- click this (klik / copy dan paste link dibawah ini ke email anda untuk mengundang teman2 anda)
http://www.facebook.com/group.php?gid=118078368760
READ MORE - Dukung Hari Tanpa TV

Rabu, 10 Juni 2009

SAJAK

MENCARI LANGIT TERAKHIR(Surat untuk Kama)

HAMRI MANOPPO

Di padang sastra aku sembunyi meninggalkanmu
pedang dulu aku altarkan di laci pejabat
mimpi mimpi kita dulu selalu jadi hantu

Kita lalu berburu ke dua bukit yang beda
padahal genggam jemari kita
pada kalam yang sama

Robeklah sampul suratku
simak denyut nadi saudaramu
deretan kata yang kita pernah asah bersama
mungkin tak tajam sempurna

Bung Kama...ingatkah bukit Kleak senja
saat kita masih bocah...belajar pakai celana
lalu menemukan butiran jerawat di wajah kita...?

Sedera apa pun kata rindu masih ampuh
untuk kau dan aku

Dari ribuan padang berburu selalu rindu bertemu
saat di padang cakrawala aku coba mencari langit terakhir

Bung Kama...aku rindu menggapainya
adakah relamu berdampingan di lengkung indah
selalu seperti dulu.

kotamobagu,10 juni 2009.
READ MORE - SAJAK

KEMBALI, MEMBACA ITU PENTING

Taufiq Ismail Minta Tumbuhkan Minat Baca "Sejam" Sehari

KOMPAS/AUFRIDA WISMI WARASTRI
Bocah-bocah membaca buku di ruang anak-anak Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, Kamis (6/11). Meskipun sempit, tempat ini diminati anak-anak untuk membaca aneka buku yang bermutu.
/Kamis, 11 Juni 2009 | 00:04 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com--Tokoh sastra terkenal Indonesia, Taufiq Ismail, mengatakan untuk menumbuhkan minat baca di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda harus melalui program "sejam" dalam sehari.

"Program `sejam` sehari itu perlu disosialisasikan ke tengah-tengah masyarakat agar mereka bisa meluangkan waktunya untuk membaca," katanya disela-sela peluncuran buku seri Sastra Klasik bertema "Indonesian Cultural Heritage" di Jakarta, Rabu malam.

Balai pustaka melalui tim UBS media kreatif, memilih delapan judul karya sastra monumental yang dianggap dapat mewakili karya sastra klasik Indonesia dan mewakili nilai-nilai moral manusia.

Taufiq Ismail, menjelaskan, minat baca masyarakat selama ini bukan saja persoalan di Indonesia, tapi juga di negara-negara maju. "Karenanya tinggalkan semua aktivitas satu jam sehari untuk membaca dan belajar," ujarnya menambahkan.

Salah satu faktor menurunnya minat baca di kalangan masyarakat, menurut Taufiq Ismail, karena pengaruh media televisi.

"Orang begitu gampang dan lalai dengan siaran televisi, sehingga tidak memiliki lagi kesempatan untuk membaca dan belajar khususnya di kalangan generasi muda," kata dia menambahkan.

Oleh karena itu, ia menyatakan beberapa budayawan sempat bertemu muka dengan tiga pasangan calon presiden/calon wakil presiden (capres/cawapres) yang akan maju dalam Pemilihan presiden (Pilpres) 8 Juli 2009.

"Dalam pertemuan terpisah dengan tiga pasangan capres/cawapres itu kami mengemukakan bahwa minat baca dan belajar masyarakat menurun sekali. Kami menanyakan juga apa yang akan dilakukan jika terpilih," ujar dia menjelaskan.

Taufiq Ismail menjelaskan, ketiga pasangan capres/cawapres itu telah berjanji akan melakukan sesuatu untuk membangkitkan kembali minat membaca dan belajar di masyarakat.

"Ya janji mereka kepada kami itu tetap ditunggu. Jadi siapapun yang terpilih sangat diharapkan adanya program untuk membangkitkan minat baca masyarakat," kata dia menambahkan.



Sumber : Ant
READ MORE - KEMBALI, MEMBACA ITU PENTING

Rabu, 20 Mei 2009

FUKUZAWA

READ MORE - FUKUZAWA

MEMAHAMI KEBUDAYAAN SAMURAI JEPANG

MEMAHAMI TELADAN MENGELOLA DILEMA TRANSISI BUDAYA DARI FILEM THE LAST SAMURAI
Oleh Kamajaya Al Katuuk

I. PENDAHULUAN

Filem The Last Samurai (TLS) adalah filem yang mengungkapkan kekayaan pergulatan budaya Jepang yang muwakil (representative). Dengan mengolah kekayaan budaya samurai, TLS menuturkan bagaimana Jepang berubah dan berkembang, sebagai salah satu negara terkecil geografisnya tetapi masuk di dalam negara-negara besar dunia bersejajar dengan Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Inggris, Perancis, dan Cina. Kunci dari keberhasilan Jepang ternyata ada di dalam budaya samurai.
Samurai adalah sebuah kata yang penuh makna di dalam sejarah dan budaya bangsa Jepang. Samurai sebagai sebuah etos karakter khas, dapat ditempatkan dalam perkembangan bangsa Jepang sebagai bangsa yang kecil tanah airnya tetapi pernah menjadi kekuatan imperialisme besar dunia bersejajar dengan Inggris, Belanda, Portugis, dan Prancis. Terma “samurai” berdampingan dengan “bushido” menjadi semacam “landmark” atau “brand-image” budaya Jepang dengan konotasi positif, seperti juga yang diterakan terhadap India (yang diteladankan Gandhi) yakni: “satyagraha”.
Di dalam sejarah dunia kekuatan kelas dunia Jepang juga tidak sekadar penting bagi supremasi Jepang, melainkan juga memengaruhi semangat persamaan kualitas eksistensial bangsa-bangsa kulit berwarna terhadap kulit putih. Hal tersebut terjadi saat Jepang mampu menaklukan pasukan sekutu.
Akar sejarah yang menyebabkan Jepang tampil seperti yang diketahui sekarang, umum semua peneliti merujuk pada sejarah agung Restorasi Meiji (yang juga dikenal orang Jepang dengan sebutan Meiji Ishin. Sejarah agung tersebut dimulai pada tahun 1868 dan dekade sesudahnya, bangsa Jepang telah membuktikan diri kepada dunia sebagai bangsa yang memiliki kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi maju yang dapat disejajarkan dengan Amerika dan negara maju lainnya. Hal yang terpenting dari restorasi ini adalah restorasi di bidang pendidikan, yaitu mengubah sistem pendidikan dari tradisional menjadi modern (saat itu dimulai dengan mengadopsi sistem Jerman), program wajib belajar, mengirim mahasiswa Jepang untuk belajar ke luar negeri (ke Prancis dan Jerman), dan meningkatkan anggaran sektor pendidikan secara drastis.
Semenjak Restorasi Meiji dikibarkan pemerintah Jepang terus menjalankan kebijaksanaannya dengan mulai giat menerjemahkan dan menerbitkan pelbagai macam buku, di antaranya tentang ilmu pengetahuan, sastra, maupun filsafat.
Sebuah doktrin penting yang mengilhami restorasi Meiji dan menjadi pandangan hidup orang Jepang tentang pentingnya pendidikan, dirumuskan pertama kali oleh Fukuzawa Yukichi, bapak pendidikan Jepang yang hidup pada zaman Meiji. Menurut Fukuzawa dalam bukunya berjudul Gakumon no Susume (Jepang: di antara Feodalisme dan Modernisasi), kedudukan manusia dalam suatu negara harus ditentukan oleh status pendidikannya, bukan oleh nilai-nilai yang dibawa sejak lahir sebagai warisan. Walaupun ada catatan yang harus kita sadari bahwa strategi Fukuzawa juga harus dilihat tetap sebagai konsep yang ada di dalam konteks kejepangan; yang memiliki keluhuran etos yang sudah turun temurun dijadikan pegangan hidup nyata. Sehingga ketergantungan terhadap unsur luar, semata beraras pada dimensi kognitif belaka, di dalam hal ini modernism ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan dimensi afektif dan prilaku tetap memanfaatkan kekayaan budaya yang telah ada. Pemikiran dan upaya yang luar biasa dari Fukuzawa dalam merestorasi pendidikan Jepang mendapatkan penghargan yang monumental, pemerintah Jepang hingga saat ini memberikan kehormatan tertinggi dengan menampilkan gambar Fukuzawa dalam nilai tertinggi dari mata uang Jepang, yakni sepuluh ribu yen.
Kemajuan bangsa Jepang terus bertambah sesudah tentara pendudukan Amerika Serikat (AS) — setelah Jepang kalah perang pada PD II — banyak memberikan dorongan pada bangsa Jepang untuk mencurahkan perhatiannya pada bidang pendidikan. Ada empat hal pokok yang dapat dijelaskan.
Pertama, sekolah dasar (SD) wajib selama enam tahun dan tidak dipungut biaya. Tujuannya untuk menyiapkan anak menjadi warga yang sehat, aktif menggunakan pikiran, dan mengembangkan kemampuan pembawaannya. Kedua, sesudah SD ada sekolah lanjutan pertama selama tiga tahun, bertujuan untuk mementingkan perkembangan kepribadian siswa, kewarganegaraaan, dan kehidupan dalam masyarakat serta mulai diberikan kesempatan belajar bekerja.
Ketiga, setelah sekolah lanjutan pertama, ada sekolah lanjutan selama tiga tahun. Bertujuan untuk menyiapkan siswa masuk perguruan tinggi dan memperoleh keterampilan kerja. Keempat, universitas harus berperan secara potensial dalam mengembangkan pikiran liberal dan terbuka bagi siapa saja, bukan pada sekelompok orang. Munculnya struktur baru pendidikan di Jepang yang di kembangkan Amerika Serikat, merupakan bentuk “revisi” dari struktur pendidikan lama yang sudah ada sebelum Perang Dunia II.
Saat ini wajib belajar masih dijalankan dengan ketat dijepang dari SD sampai SMA, sehingga tidak heran hampir 100 persen penduduk Jepang tamat SMA dan hampir tidak ada yang buta huruf, artinya hampir 100 persen penduduk Jepang dapat membaca kanji yang jumlahnya sekitar 3000 kanji beserta kombinasi berikut cara bacanya.
Sebagian besar lulusan SMA di Jepang melanjutkan ke universitas atau sekolah kejuruan. Ada juga universitas terbuka istilahnya “Hosyo daigaku” yang perkuliahannya dilakukan melalui TV swasta khusus selama 18 jam nonstop setiap hari, dan materinya diberikan oleh profesor-profesor yang cukup terkenal diseluruh Jepang. Prosentase lulusan S-1 yang melanjutkan S-2 sangat besar, contohnya apa yang dilakukan oleh Osaka University, hampir 70 persen mahasiswa S-1 diuniversitas ini melanjutkan S-2, dan 10 persen ke S-3. Karena wajib belajar, uang sekolah dan fasilitas lainnya dari SD sampai SMP terutama untuk keluarga menengah ke bawah menjadi kewajiban negara .
Investasi yang ditanamkan Jepang untuk pendidikan sangat besar namun hasil yang diperolah dari investasi tersebut sangat signifikan, sebagaimana yang kita lihat tentang Jepang sekarang ini dengan GNP melebihi 34.000 USD (Indonesia 700 USD). Korelasi antara majunya pendidikan Jepang dan kemajuan industrinya benar-benar terwujud. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan bangsa Jepang tumbuh menjadi negara industri utama di Asia, yang kedudukannya sejajar dengan bangsa Barat lain seperti Amerika, Inggris maupun Prancis.( http://mandaazzahra.wordpress.com/about/). Di samping itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh The Political and Economic Risk Consultancy (PERC), lembaga konsultan yang berkedudukan di Hong Kong pada akhir tahun 2001 (Republika, 03/05/02) menempatkan Jepang dalam urutan ketiga di bawah Korea Selatan dan Singapura, dalam Human Development Index atau indeks pembangunan manusia (IPM). Sedangkan hasil penelitian UNDP tahun 2007-2008, dari 117 negara di dunia, jepang masuk ke urutan delapan besar dunia. Urutannya: 1.Iceland, 2.Norway, 3.Australia, 4.Canada, 5.Ireland, 6.Sweden, 7. Switzerland, 8.Japan. Sekadar tambahan pembanding Indonesia berada diurutan ke 107, di bawah Palestina, yang menempati urutan ke 106.
Melalui filem “The Last Samurai” (TLS) penonton disegarkan kembali ikhwal dasar etos dan filosofi yang khas dan unik tersebut, dengan mengandalkan cerita, sejarah serta kekuatan media audio-visual serta laga (acting) para pemerannya. Pembahasan di dalam buku ini, kita akan urut berdasarkan sistematika berikut: (i) unsur struktur: sinopsis, pemeran, sutradara serta produser; dan (ii) interpretasi semiotika (pemaparan makna dan fungsi kontekstualnya, termasuk pemahaman terhadap Jepang dan perbandingannya dengan Indonesia).
READ MORE - MEMAHAMI KEBUDAYAAN SAMURAI JEPANG

SAJAK KEHILANGAN

Matinya Pancuran (Catatan Minawerot)

Gumuk tanah yang lembab
dan ilalang yang basah
masih menyimpan peradaban kampung di masa silam

Masa kecil jejaknya masih tergurat cadas-cadas yang berlubang
dulu kami menjebak kepitang dan udang sambil menunggu ayah selesai meladang.
Tegalan bukit kecil di ujung jalan berkeiok masih juga menyimpan suara nakal
masa kanak yang mengintip pancuran perempuan di sebelah
Tetapi di gigir kampung tak lagi ada lodong bambu
atau talang seng yang memancurkan air dari hulu.
Pancuran tinggal kata dalam kamus tua
Kau mungkin menemukannya dalam lukisan di sebuah hotel
Atau barangkali kau rindu masa silam
hanya anak-anak menganggapnya dongeng belaka.
READ MORE - SAJAK KEHILANGAN

BIOLOGI POHON KETELA

Biologi Pohon Ketela (Oposisi Biner)

Sebatang pohon ketela dipotong-potong
Terpotong batang
batang terpotong tapi selnya tidak mati hanya hidup tertunda
Sampai bumi memeluknya
Langit menangisinya
Lalu tumbuhlah sirung
Umbi kehidupan baru

Berbatang batang berpohon-pohon berumbi-umbi
Sebatang pohon kehidupan dipotong-potong
Terpotong harapan
cinta tak sesanding kuasa
tapi sel-sel nabi tak pernah mati kecuali berganti nama
sampai bumi memeluknya
Langit menangisinya

Lalu tumbuhlah sirung
Umbi kehidupan baru
Berorang-orang bertanah-tanah
berlaut laut cinta demi cinta atas nama cinta
dendam pada angkara
Memotong pohon kuasa

Orang menyangka telah menguburnya
Tapi sel angkara tak pernah mati hanya berganti masa
Sampai bumi hamil karenanya
Langit menangisinya
Lalu tumbuhlah sirung
Umbi kehidupan baru
Angkara demi angkara atas nama dendam cinta pada cinta

Pohon tumbuh dari
Lalu ke lalu
Dari sel ke sel
Dari mati ke umbi
Lalu ke lalu
Dari tak ke ada
dari kubur ke bangkit
Lalu ke lantas
Dan sel ke seI
Dari angkara demi cinta
Dari cinta demi angkara
Dari lalu ke selalu

Kau sambil mengintip mungkin merasa memilihnya
tumbuh bersama salah satunya
atau memelihara keduanya.

Lihatlah ke tanah, selalu ada yang baru.
READ MORE - BIOLOGI POHON KETELA